Pemerintahan Kabupaten Kaimana

Percepatan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Menuju Kaimana sebagai Kabupaten Termaju di Selatan Papua pada Tahun 2010

Kehutanan dan Perkebunan

Kawasan hutan di Kabupaten Kaimana merupakan kelompok Hutan Hujan Tropis Basah pantai Selatan leher burung pulau Papua. Kawasan hutan ini memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi karena posisinya yang merupakan perwakilan tipe formasi hutan pantai dan pulau-pulau, hutan mangrove dan estuary, hutan rawa gambut campuran, hutan dataran rendah, dan hutan pegunungan rendah/menengah. Tipe formasi hutan demikian merupakan habitat dan relung dari flora dan fauna baik darat maupun perairan dengan tingkat keanekaragaman yang sangat tinggi.

Hutan1Berdasarkan pembagian hutan menurut fungsinya, kawasan hutan di Kabupaten Kaimana terdiri atas Hutan Lindung (HL), Hutan Perlindungan dan Pengawetan Alam (PPA), Hutan Produksi (HP), Hutan Produksi Terbatas (HPT), Hutan Produksi Yang Dapat Dikonversi (HPK) dan Areal Peruntukan Lain (APL). Keseluruhan luas kawasan hutan termasuk perairan darat, tidak termasuk periran laut mencapai 1.724.326 ha (1,7 ha), tergolong kawasan hutan tetap seluas 1,4 juta ha (78, 3%) dan kawasan hutan tidak tetap (21,7%). Sebaran luas hutan Kaimana berdasarkan fungsinya disajikan pada Tabel 5.1. Sebagian besar kawasan hutan (64 %) diperuntukan untuk tujuan penghasil produksi kayu dan untuk tujuan konservasi dan perlindungan 30,57 % masih memenuhi ketentuan bahwa untuk suatu wilayah kabupaten luas tutupan hutan yang harus dipertahankan minimum 30 %. Proporsi luasan hutan pada Tabel 5.1, berbeda dengan hasil interpretasi citra landsat yang di overlay dengan Tata Guna Hutan Kesepakatan serta Peta Status Lahan (RePProt, 1986). Hasil interpretasi menunjukkan bahwa luas hutan 1.928.243.50 ha, terdiri atas 31,03 % untuk tujuan konservasi dan perlindungan dan 68,19 % untuk tujuan produksi.

Persebaran luas fungsi hutan menurut distrik di Kabupaten Kaimana berdasarkan Tata Guna Hutan. Persebaran lokasi hutan lindung telah merata di seluruh distrik, namun dengan persentase yang bervariasi terhadap luas kawasan hutan di setiap distrik. Hal ini perlu mendapat perhatian dalam perencanaan pemanfaatan hutan produksi di setiap distrik. Hutan lindung yang ditetapkan di wilayah ini umumnya berfungsi sebagai Sempadan Pantai, Sempadan Sungai, Sempadan Danau dan sempadan teluk. Sedangkan kawasan konservasi yang terdapat di wilayah ini adalah Hutan Suaka Alam dan Suaka Margasatwa merupakan bagian dari Hutan Perlindungan Pengawetan Alam (PPA). Lokasi kawasan konservasi ini adalah Di Pegunungan Kumawa Distrik Buruway dan Gunung Wagura Kote Distrik Teluk Arguni. Sekalipun fungsi dan penggunaan hutan telah ditetapkan, namun potensi produksi terutama jenis-jenis komersil belum diketahui dengan pasti termasuk jenis-jenis flora dan fauna endemik yang dilindungi. Demikian halnya dengan hutan lindung dan kawasan konservasi belum diketahui karakteristik ekosistem dan fungsi lindungnya dengan tepat. Hal ini perlu mendapat perhatian dalam perencanaan pengelolaan setiap fungsi kawasan. Namun demikian, khususnya di hutan produksi berdasarkan karakteristik habitat dan ekosistem serta fisiografi lahan, maka dapat diduga hutan produksi tersebut memiliki potensi jenis kayu komersil yang tinggi. Dugaan ini diperkuat dengan beroperasinnya beberapa perusahaan Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan Izin Pemungutan Kayu Masyarakat Adat (IPK-MA) di wilayah ini. Berdasarkan Laporan Hasil Cruising (LHC) PT. Hanurata Unit Kaimana pada tahun 2005, kerapatan jenis kayu komersil berdiameter 10 cm ke atas (tingkat pohon) mencapai 240 phn/ha dengan volume 89,46 m3 dan potensi produksi masak tebang sebesar 24 m3/ ha.

Tipe Formasi Hutan

Secara umum tipe dan formasi kawasan hutan di Kabupaten Kaimana terdiri atas tipe dan formasi hutan mangrove, Hutan Pantai, Hutan Rawa Campuran, Hutan Dataran Rendah/ Pegunungan Rendah. Kawasan hutan di Kabupaten Kaimana terluas adalah tipe formasi hutan dataran rendah/ pegunungan rendah dengan luasan sebesar 1,6 juta hektar. Tipe dan Formasi hutan yang sempit adalah hutan mangrove dan hutan pantai seluas 51.000 hektar. Tipe hutan rawa campuran menempati luasan sekitar 83.000 hektar. Luasan hutan tersebut belum termasuk hutan sekunder, lahan tidak produktif dan semak belukar, yang menyebar berkelompok dengan luasan bervariasi mengikuti fisiografi lahan dan jenis substrat dasar habitat. Ke empat tipe formasi hutan tersebut menyebar di seluruh distrik dengan proporsi luasan yang bervariasi terhadap luas wilayah Distrik maupun Kabupaten. Setiap tipe dan formasi hutan tersebut didominasi oleh lebih dari satu jenis vegetasi sebagai penciri utamannya. Komposisi dan struktur jenis pun bervariasi bergantung pada substrat dasar dan batuan induk pembentuk substrat tersebut.

Hutan Pantai

HutanPantaiHutan pantai dan pulau tersebar di pesisir pantai dan pulau-pulau di pesisir pantai Selatan terutama di Distrik Kaimana dan Distrik Buruway. Tipe dan formasi hutan pantai di Distrik Kaimana terdapat di sebelah selatan Kaimana pada jajaran bukit dan tebing batu kapur. Sedangkan di Distrik Buruway terdapat di sebelah barat membujur ke timur Kampung Nusaulan sampai ke Kampong Edor Lama. Jenis vegetasi yang mendominasi tipe formasi hutan ini adalah Pandan (Pandanus sp), Ketapang (Terminalia catappa), Waru Laut (Hibiscus sp) dan Bintanggur pantai (Callophyllum sp). Pada daerah-daerah pantai berpasir didominasi oleh Kelapa (Cocos nucifera) dan Cemara pantai (Casuarina equicetiffolia). Jenis yang disebutkan terakhir ini umumnya mendominasi daerah pantai berpasir di pulau-pulau. Wilayah hutan pantai ini pemanfaatannya selain sebagai pemukiman, juga merupakan dusun-dusun kelapa penduduk di sekitarnya dan sebagai kebun penduduk terutama hutan pantai dekat pemukiman.

Di Distrik Buruway dijumpai tipe hutan kerangas. Tipe hutan ini dijumpai pada bukit-bukit karang di tepi pantai yang terkadang dikelompokan ke dalam formasi hutan pantai berkarang. Jenis vegetasi dominan pada tipe hutan ini adalah Gelam (Eucalyptus sp), Kayu putih (Melaleuca sp) dan Chenospodium. Di samping itu dijumpai pula beberapa jenis herba seperti Lycospodium sp, serta rumput-rumput penutup tanah seperti Digitaria sp, Eragrotis sp, Kyllinga sp dan Cyperus sp.

Hutan Mangrove dan Nipah

HutanMangroveTipe formasi hutan mangrove menyebar di sepanjang teluk dan muara-muara sungai di tepi pantai. Tipe formasi ini umumnya berasosiasi dengan hutan nipah dengan luasan mencapai 50.575,52 ha (2,62 %) dari luas kawasan hutan. Wilayah persebaran hutan mangrove hampir terdapat di setiap distrik dalam wilayah Kabupaten Kaimana dengan luasan yang bervariasi. Di Distrik Buruway seluas 3,15% dari luas hutan distrik (415.939,204 ha); Kaimana Kota seluas 1,30% dari luas hutan distrik (488.080.328 ha); Teluk Arguni seluas 2.38% dari luas hutan distrik (377.361,60 ha); dan Teluk Etna seluas 3.42% dari luas hutan distrik (646.862.35 ha).

Komposisi dan struktur jenis hutan bervariasi bergantung pada tingkat pelumpuran dan jangkauan pengaruh pasang surut air laut. Jumlah jenis mangrove yang dijumpai berkisar antara 6 – 15 jenis dengan zonasi relatif jelas untuk tipe mangrove muara, yaitu Avicenia sp dan Sonneratia sp merupakan zonasi terluar selanjutnya ke arah dalam teluk diikuti oleh Rhizophora sp dan Bruquiera sp serta Nypha fruticans sp dan Xylocarpus sp. Pada hutan mangrove di Distrik Teluk Arguni dijumpai jenis Achantus ebacteatus dan Acanthus ilioifolius serta Acrosticum oureum dan Acrosticum speciosum. Hampir seluruh tipe hutan mangrove di kawasan Kaimana terutama estuary mangrove didominasi oleh Rhizophora sp, Bruquiera sp dan Sonneratia sp dengan kerapatan pohon berkisar antara 1000 – 1600 pohon per hektar. Pada tipe vegetasi mangrove estuary yang rapat dan kompak umumnya menyebar di sekitar muara sungai besar atau di sepanjang teluk, kerapatan semai untuk semua jenis mencapai 10.000 – 40.000 semai/ha, sapihan mencapai 800 – 2400 sapihan/ha, tiang mencapai 300 – 700 pohon/ha dan tingkat pohon mencapai 65 – 135 pohon/ha. Beberapa hutan mangrove yang tersebar sporadik dengan lebar hanya mencapai 20 meter pada cekungan-cekungan pantai bersubstrat pasir berlumpur didominasi oleh Rhizopora sp. Vegetasi nipah umumnya tumbuh di sepanjang pantai teluk di belakang mangrove dan tepian muara sungai besar yang masih terpengaruh oleh pasang air laut. Potensi pohon nipah ini cukup rapat dan sangat potensial untuk dikembangkan sebagai sumber bahan baku gula.

Hutan Rawa-Sagu Campuran

Hutan rawa–sagu campuran merupakan tipe formasi hutan yang berada di belakang formasi hutan mangrove-nipah. Hutan ini umumnya merupakan ekosistem peralihan ke hutan dataran rendah, terutama pada daerah teluk dan muara sungai yang lebar dan datar. Merupakan wilayah dataran banjir dengan drainase agak terhambat sampai terhambat. Juga hutan ini banyak dijumpai pada sempadan danau-danau yang berada di kawasan ini.

Tipe formasi hutan ini umumnya memiliki komposisi jenis yang tinggi yang terkadang disisipi oleh hutan sagu dan rumput rawa yang cukup tebal. Substrat umumnya lumpur dan terkadang bergambut yang agak dalam. Jenis-jenis kayu yang mendominasi formasi tipe hutan ini adalah Ketapang (Terminalia catappa), Matoa (Pometia spp), Merbau (Intsia palembanica), Sukun (Arthocarpus sp), Jambu-jambuan (Zysigyum sp), Pala hutan (Myristica spp), Jambu hutan (Eugenia sp), Binuang (Octomeles sumatrana) dan Nyatoh (Palaquium sp). Potensi pohon jenis komersial umumnya cukup tinggi. Kerapatan vegetasi tingkat pohon mencapai 164 pohon/ha dengan rata-rata potensi pohon masak tebang antara 25 – 30 m3/ha, bahwa di daerah sepadan sungai potensi jenis komersil jauh lebih tinggi. Karena itu bagian agak ke darat pada daerah tergenang temporal terkadang menjadi areal konsesi HPH.

Vegetasi sagu pada hutan rawa campuran di wilayah Kaimana merupakan sagu alam berupa dusun-dusun penduduk. Kelompok hutan sagu ini umumnya menyebar di bagian selatan membujur dari arah Barat Laut ke Tenggara pada daerah-daerah rawa tergenang dan tergenang temporer. Dusun sagu setempat setempat tumbuh berkelompok pada cekungan-cekungan pesisir pantai atau teluk. Pada hutan campuran sagu, potensi sagu bervariasi dari 50 – 100 rumpun per hektar dengan potensi pohon masak tebang/pohon dewasa berkisar antara 1 – 2 batang/rumpun dan anakan 3 – 4 anakan per rumpun. Potensi kandungan aci bervariasi tergantung pada umur panen. Pada umumnya satu batang pohon sagu dapat menghasilkan aci basah berkisar 125 – 250 kg (4 – 5 tumang). Bahkan di Distrik Buruway, produksi aci basah per pohon mencapai 8 – 15 tumang. Sagu di wilayah ini dikonsumsi sendiri dan sebagian juga dijual
dengan harga lokal Rp. 50.000 – 100.000,-. per tumang Selain sagu alam, juga dijumpai kebun sagu rendah karena langsung berbatasan dengan perbukitan dan pegunungan yang tinggi, seperti di kawasan hutan Kaimana.