Pemerintahan Kabupaten Kaimana

Mewujudkan KAIMANA baru yang sejahtera, adil, aman, bermartabat, dan berkelanjutan

Pertanian dan Peternakan

Peternakan

Pengembangan peternakan di Kabupaten Kaimana, yang merupakan kabupaten baru hasil pemekaran dari Kabupaten Fakfak, sebetulnya sudah dimulai dari tahun 1992 dengan program pemberian sapi Banpres kepada masyarakat. Pada tahun 1999 pemberian bantuan berupa kambing gaduhan dari Dinas Peternakan Kabupaten Fakfak. Program ini tidak berjalan dengan baik karena kurangnya pemahaman peternak tentang budidaya kambing yang disebabkan kurangnya pembinaan dari pemerintah. Kebijakan pemerintah dalam upaya mengembangkan sektor peternakan telah dimulai pada tahun 2004 dengan memberikan bantuan beberapa jenis ternak kepada kelompok masyarakat, mahasiswa maupun unit pelaksana teknis di lingkungan Dinas Peternakan itu sendiri. Pengembangan ternak kambing dan unggas diarahkan pada beberapa kampung di Distrik Kaimana Kota sedangkan sapi potong diarahkan ke salah satu kampung.

peternakan1Potensi Ternak di Kabupaten Kaimana Ayam bukan ras merupakan ternak potensial di Kabupaten Kaimana, karena sudah tersebar diseluruh distrik. Kebijakan pemerintah daerah untuk di Distrik Kaimana Kota dan Distrik Buruway. Distrik Buruway menjadi pilihan pengembangan sapi mengembangkan ternak ini adalah dengan memberikan paket bali karena daerahnya luas, cukup datar dan lahan di bawah pohon kelapa dapat digunakan sebagai ayam buras kepada kelompok masyarakat, kelompok tempat penanaman hijauan pakan ternak jenis tahan naungan. Lambatnya perkembangan peternakan mahasiswa dan UPT yang ada di Dinas Peternakan sendiri. di Kabupaten Kaimana selain faktor di atas, juga karena peternakan belum menjadi sektor andalan.

Rencana pengembangan ayam buras akan dikonsentrasikan sebagai sumber pendapatan keluarga. Masyarakat pada umumnya masih mengandalkan hasil pada beberapa kampung di Distrik Kaimana kota dan UPT Teluk tangkapan laut. Arguni.

Potensi dan produksi Peternakan

peternakan2Pemeliharaan ternak di Kabupaten Kaimana secara umum masih bersifat budidaya subsisten sehingga perkembangan ternak masih sangat lambat. Tidak semua ternak dapat ditemukan di semua distrik di Kabupaten Kaimana kecuali ayam buras dan babi. Sekalipun babi dapat ditemukan di semua distrik, sebetulnya penyebarannya hanya pada kampung-kampung tertentu.

Kabupaten Kaimana adalah itik dan entog, yang keberadaannya cukup menyebar di beberapa distrik. Populasi itik dan entog tersebar di Distrik Kaimana Kota. Ternak kambing yang dipelihara masyarakat dari jenis kambing kacang. Ternak ini sudah ada di Kabupaten Kaimana sejak tahun 1999 melalui program gaduhan dari Dinas Peternakan Kabupaten Fakfak. Program ini tidak berjalan dengan baik karena tidak adanya pengawasan dari dinas terkait sehingga kambing bantuan ini dijual sebelum masyarakat mampu mengembalikannya. Selanjutnya pada tahun 2004, Dinas Peternakan Kabupaten Kaimana memberikan bantuan kambing kepada masyarakat di beberapa kampung di Distrik Kaimana kota dan Buruway. Rencana pengembangan ternak kambing untuk Kabupaten Kaimana akan dipusatkan di Kampung Coa, Trikora dan Kroy.

Sapi bali (Bos Sondaicus) di samping ternak kambing merupakan ternak ruminansia yang tersebar hampir di semua distrik di Kabupaten Kaimana. Ternak ini sudah ada di Kabupaten Kaimana sejak tahun 1992 sebagai ternak Bantuan Presiden yang diberikan kepada masyarakat melalui Dinas Peternakan Kabupaten Fakfak. Perkembangan populasi ternak ini cukup baik. Saat ini di Kampung Coa,Trikora dan Kroy Distrik Kaimana kota terdapat sekitar 500 ekor sapi bali, yang sebagian dari sapi ini rencananya akan dipindahkan ke Kampung Tanggaromi di Distrik Kaimana Kota dan Kampung Yarona di Distrik Buruway. Sejak tahun 2003 Ternak Sapi sudah dikembangkan di Kampung Yarona melalui program bantuan ternak sapi dari Dinas Peternakan Kabupaten Fakfak. Sesuai dengan rencana pengembangan sapi bali di Distrik Buruway, saat ini sedang dipersiapkan lahan seluas 10 ha untuk penanaman rumput gajah (Pennisetum purpureum) dan ranch. Ternak babi yang dipelihara oleh masyarakat adalah jenis babi lokal (Sus Papuaniensis) kecuali di Distrik Teluk Etna, babi yang dipelihara oleh masyarakat adalah jenis babi putih (Chester White). Nampaknya ternak babi ini tidak berkembang dengan baik karena masyarakat kurang berminat untuk memeliharanya.

Potensi pakan hijauan yang ada di Kabupaten Kaimana masih perlu ditingkatkan mengingat hingga saat ini pakan hijauan yang tersedia masih bersifat alami dan belum dibudidayakan. Peningkatan kualitas pakan hijauan ini perlu dilakukan karena ternak kambing dan sapi merupakan ruminansia yang berpotensi untuk dapat berkembang dengan baik. Hijauan dan leguminosa yang dapat ditemukan hampir di semua distrik adalah rumput pahitan (Paspalum conjugatum), rumput teki (Cyperus rotundus), dan berbagai rumput alam yang tahan naungan. Selain itu terdapat juga leguminosa seperti gamal (Glirisida sepium) dan lamtoro (Leucaena glauca).

Pemasaran hasil ternak masih sangat sederhana. Masyarakat hanya menjual ternaknya pada saat tertentu saja, misalnya saat mereka memerlukan tambahan uang untuk kebutuhan rumah tangga yang mendesak, atau ada orang lain yang memerlukan ternak untuk dipotong. Harga jual ayam buras betina Rp. 30.000/ekor sedangkan ayam jantan Rp.50.000/ekor. Harga jual kambing berkisar antara Rp. 300.000 sampai Rp. 500.000/ekor sementara sapi Rp. 1.500.000 sampai Rp. 3.000.000/ekor. Penjualan ternak babi tidak selalu dalam bentuk hidup tetapi dalam bentuk daging. Harga jual babi berkisar antara Rp. 500.000 sampai Rp. 1.200.000/ekor dan Rp. 5.000/kantong plastik (kurang lebih 0,75kg). Khusus Distrik Kaimana Kota pada tahun 2004 pernah menjual sapi dan kambing ke Timika, Fakfak dan Sorong degan jumlah penjualan sapi sebanyak 60 ekor dan kambing 20 ekor.

Sistem Pemeliharaan

Sistem pemeliharaan ternak di Kabupaten Kaimana secara umum masih bersifat ekstensif, yaitu ternak dipelihara apa adanya tanpa memperhatikan kebutuhan ternak akan kecukupan pakan, kebutuhan kandang dan perawatan kesehatan. Ternak unggas (ayam buras, itik dan entok) dalam proses pemeliharaannya dibiarkan mencari pakan sendiri di sekitar rumah atau tempat lain. Sebagian masyarakat di Distrik Kaimana kota telah menyediakan kandang sederhana untuk ayam buras yang mereka pelihara tanpa menyediakan pakan yang memadai. Pagi hari ayam ini dikeluarkan dari kandang untuk mencari makan dan sore hari dikandangkan kembali, sementara itik dan entog tidak disediakan kandang.

Sistem pemeliharaan yang sama juga terjadi pada sapi dan kambing. Ternak-ternak ini tidak disiapkan kandang oleh pemiliknya. Sapi-sapi yang dipelihara hanya diikat/diumbar di halaman rumah/tegalan tanpa diberi pakan hijauan yang memadai terutama pakan hijau yang berkualitas. Kambing

Ternak Kambing yang dipelihara di seluruh distrik tidak ada yang dikandangkan. Ternak-ternak ini memanfaatkan pinggiran-pinggiran bangunan untuk berteduh pada malam hari, sementara pada siang hari kambing akan merumput dimana saja.

Sama halnya dengan ternak-ternak tersebut di atas, ternak babi juga dibiarkan berkeliaran tanpa disiapkan kandang, kecuali di Kampung Wosokunu Distrik Teluk Etna. Walaupun sederhana di kampung ini ternak babi telah mempunyai kandang. Secara umum pakan yang diberikan oleh pemilik ternak babi adalah limbah dapur dan limbah pertanian.

Penyakit Dan Upaya Penanggulangan

Penyakit yang banyak menyerang ayam buras adalah tetelo (New Castle Disease/ND). Selain itu di Distrik Teluk Etna pernah ditemukan penyakit berak kapur (Pullorum) dan cacingan. Pada umumnya pemilik ternak kurang mengerti cara mengobati/mencegah timbulnya penyakit sehingga sering ayam yang sakit dibiarkan sampai sembuh sendiri atau mati atau disembelih dan dimakan. Khusus di Distrik Kaimana kota, program vaksinasi ND sudah dilaksanakan.

Ternak kambing yang dipelihara oleh masyarakat di Kabupaten Kaimana sering terserang penyakit cacingan, kembung perut dan mencret. Secara umum tidak ada upaya dari peternak untuk mengatasinya karena tidak mengetahui penyebab penyakit tersebut. Khusus Distrik Kaimana Kota, untuk mengatasi penyakit mencret, peternak meminta bantuan Dinas Peternakan untuk mengobati kambing-kambing yang mencret. Obat yang digunakan adalah streptomycin. Sebetulnya cacingan dan kembung perut dapat diatasi dengan manajemen yang baik, seperti penyediaan kandang dan pakan yang berkualitas, sehingga ternak terhindar dari memakan rumput yang mengandung telur cacing maupun makan rumput yang masih mengandung embun.

Ternak sapi, seperti halnya ternak kambing, terserang mencret dan luka-luka serta infeksi di kulit. Penyakit mencret ini sering dijumpai terjangkit pada sapi-sapi di Distrik Kaimana Kota yang biasanya diobai dengan streptomycin. Sementara sapi dengan luka dan infeksi di kulit yang terjadi di Distrik Buruway dibiarkan begitu saja oleh pemiliknya sampai sembuh dengan sendirinya. Penyakit yang menyerang babi adalah cacingan dan mencret. Seperti halnya pada ternak yang lain, babi yang cacingan atau mencretpun dibiarkan begitu saja oleh pemiliknya.

Master Plan Pertanian

Berikut Paparan mengenai Master Plan Pertanian Kab Kaimana