Peluang Investasi
POTENSI DAN PELUANG INVESTASI
Sektor Pertanian Tanaman Pangan
Sektor pertanian tanaman pangan di Kabupaten Kaimana memiliki Potensi yang cukup besar untuk di kembangkan. Ini dapat di lihat dari luas lahan pertanian yang ada serta rencana pengembangannya. Luas lahan pertanian tanaman pangan, terutama lahan kering 1000 ha, ditujukan untuk komoditi tanaman bahan makanan seperti padi ladang, jagung, ketela pohon, ketela rambat, berbagai jenis kacang – kacangan, sayuran dan buah- buahan. Untuk pengembangan tanaman padi ladang, saat ini telah digarap areal seluas 18 ha, dan pada tahun 2006 dikembangkan menjadi 300 ha. Produksi pertanian untuk tahun 2007, terdiri dari jagung (60,00 ton), ubi kayu (52,00 ton), ubi jalar (60,00 ton), keladi (144,00 ton), sayuran (83,00 ton), buah – buahan (98,00 ton).
Sektor Perkebunan
Komoditi sektor perkebunan yang mencakup hasil tanaman perkebunan seperti kelapa, pala, coklat, cengkeh dan vanili, sangat potensial untuk di usahakan dan di kembangkan, mengingat beberapa kawasan di kabupaten kaimana sangat cocok untuk pengembangan sektor ini adalah seluas 16.551 ,5 ha, dengan pembagian lahan untuk tanaman kelapa 790 ha, tanaman pala 1.649 ha, tanaman coklat 4.000 ha, tanaman cengkeh 62,5 ha, dan tanaman vanili 50 ha.
Produksi sektor perkebunan pada tahun 2007 meliputi kelapa (5177,11 ton), pala (5286,27 ton), coklat / cacao (429,15 ton), cengkeh (5980 ton), vanili (1 ton).
Sektor Perikanan
Kabupaten Kaimana memiliki potensi yang cukup besar dan potensial untuk usaha sektor perikanan, baik perikanan tangkap maupun perikanan budi daya. Sektor ini merupakan sektor andalan. Hingga saat ini pengelolaan sektor perikanan yang dilakukan oleh nelayan lokal masih belum optimal, terutama disebabkan oleh keterbatasan sarana dan prasarana yang dimiliki serta pengetahuan pengelolaan produksi dan pasca produksiyang masih minim.
Produksi sektor perikanan Kabupaten Kaimana terdiri dari berbagai jenis hasil laut seperti jenis ikan, udang, kerang, mutiara, kepiting, teripang dan hasil lainnya. Pengelolaan sektor perikanan berskala menengah dan besar dilakukan oleh beberapa perusahaan perikanan, yaitu PT. Avona Mina Lestari, PT. Karya Cipta Buana Sentosa, PT. Amera Nus dan PT. Raja. Mina Raya
Sektor Kehutanan
Kabupaten Kaimana memiliki kawasan hutan yang luas, yang terdiri dari Kawasan Hutan Konservasi dan Kawasan Hutan Produksi. Kawasan Hutan Konservasi terdiri dari Hutan Perlindungan dan Pelestarian Alam (PPA) seluas 237.187 ha dan kawasan Hutan Lindung ( HL ) seluas 540.243 ha. Kawasan Hutan Konservasi ini terdiri : Cagar Alam Pegunungan Kumawa; Hutan Lindung Teluk Arguni; Hutan lindung Kambrauw – Kambala; Hutan Lindung Teluk Arguni – Manggai; dan Suaka Marga Satwa Pulau Venu.
Sedangkan Kawasan Hutan Produksi di Kabupaten Kaimana seluruhnya seluas 1.554.880 ha. Yang didalamnya terdapat berbagai komoditas kayu dengan nilai jual tinggi dan berbagai jenis Satwa yang mendiami kawasan tersebut. Kawasan hutan produksi tersebut terdiri dari Kawasan Hutan Produksi seluas 281.819 ha, kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) seluas 796.912 ha, Kawasan Hutan yang Dikonversi (HPK) seluas 476.149 ha dan Kawasan Hutan Lain – Lain seluas 30.000 ha.
Produksi Kehutanan antara lain berbagai jenis kayu, baik kayu gelondongan maupun kayu olahan dengan nilai jual tinggi serta berbagai potensi hutan lainnya seperti rotan, damar, kulit kayu, kopal, nipah, akar – akaran dan berbagai jenis satwa yang hidup didalamnya.
Untuk pengelolaan hutan berskala besar, pengoperasiannya dilakukan oleh beberapa perusahaan pemegang HPH, yaitu : PT. Budhi Nyata, PT. Hanurata Unit II, PT. Prabu Alaska, PT. Irmasulindo / PT. Masindo Mitra Papua, PT. Wanakahu Hasilindo, PT. Kaltim Utama, PT. Centrico, dan PT. Teluk Bintuni Mina Argo Karya.
Pada tahun 2005, Produksi sektor Kehutanan oleh Pemegang HPH meliputi berbagai jenis kayu bulat dan kayu olahan. Produksi Kayu pada tahun 2005 mencapai 4,121,542 M3, sedangkan produksi kayu olahan sebesar 10,411,775 M3.
Sektor Peternakan
Sektor Peternakan di Kabupaten Kaimana cukup potensial untuk dikembangkan serta sangat menjanjikan baik bagi konsumsi lokal maupun untuk pasar regional, domestik dan eksport. Hingga saat ini pengelolaan sektor peternakan oleh peternak lokal masih belum optimal disebabkan keterbatasan prasarana yang dimiliki serta pengetahuan pengelolaan ternak yang sangat minim. Selama ini ,pengelolaan sektor peternakan masih menggunakan pola tradisional dengan pemberian pakan serta sistem pemeliharaan dan perawatan ternak yang masih sederhana. Hasil produksi sektor ini sebagian besar hanya untuk konsumsi lokal dan belum berorientasi pasar. Produksi sektor peternakan mencakup berbagai jenis ternak besar, ternak kecil, unggas dan hasilnya, seperti sapi, babi, rusa, kambing, ayam, itik dan telur dengan rincian dalam tabel berikut. Adapun jumlah populasi ternak ternak di Kabupaten Kaimana pada tahun 2005 terdiri dari ternak sapi (455 ekor), babi (120 ekor), rusa (88 ekor), kambing (322 ekor), ayam ras ( 2.900 ekor), ayam buras (4.125 ekor), itik ( 275 ekor).
Energi dan Sumber Daya Mineral
Wilayah Kabupaten Kaimana yang bergunung – gunung dikenal juga memiliki potensi energi dan sumber daya mineral yang cukup besar dan beragam. Potensi yang sudah dieksplorasi dan dilaporkan adalah cadangan batu gamping yang diperkirakan sekitar 1.600.109 ton. Dari jumlah tersebut lebih kurang 310.109 ton memenuhi syarat dijadikan bahan baku industri semen, karena mempunyai kadar CaC lebih besar dari 50% HgO lebih kecil dari 3%.
Sektor Usaha Kecil dan Menengah
Sektor Usaha Kecil dan Menengah saat ini masih terbatas, karena belum dikembangkan secara profesional dan berorientasi pasar. Namun potensi masyarakat dalam bidang usaha tersebut dapat dikembangkan di masa mendatang, terutama di sektor industri perikanan dan kelautan, pengelolahan hasil pertanian, perkebunan dan kehutanan serta berbagai jenis kerajinan.
Khusus untuk kerajinan dan pengembangan bidang usaha kecil, Pemerintah Daerah telah melakukan upaya peningkatan keterampilan serta usaha bagi kelompok masyarakat untuk mengembangkan bahan konstruksi seperti pembuatan batu tela dan paving block. Bidang usaha seperti ini muli berkembang dan beberapa kelompok telah meningkatkan hasil produksinya. Untuk usaha industri pengolahan makanan dari berbagai bahan dasar, Pemerintah Daerah berupaya mengoptimalkan produksi pengolahan bahan makanan melalui pelatihan keterampilan bagi masyarakat pengusaha kecil dan menengah.
Sektor Perdagangan dan Jasa
Sektor perdagangan dan Jasa saat ini berkembang sangat pesat terutama dalam memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat, kebutuhan sektor publik, serta kebutuhan industri dan jasa lainnya. Saat ini di Kaimana terdapat pusat perbelanjaan dan pasar sentral ( walaupun masih sangat sederhana ), yang dapat memenuhi kebutuhan bahan pokok masyarakat sehari–hari. Untuk sektor jasa, juga diharapkan dapat berkembang di masa mendatang. Hal ini dimungkinkan dengan tersedianya berbagai fasilitas penunjang seperti pelabuhan laut dan bandar udara. Jasa transportasi laut terutama transportasi antar pulau yang dimiliki oleh penyedia jasa lokal kaimana maupun BUMN adalah sebanyak 9 ( sembilan ) buah kapal dengan bobot mati 1200 – 2000 DWT, sementara jasa transportasi udara, tersedia bebrapa maskapai penerbangan mulai dari armada berkapasitas kecil hingga armada pesawat berbadan lebar. Indeks perdagangan dan jasa Kabupaten Kaimana selama tahun 2005 berdasarkan hasil pengolahan data statistik PDRB menunjukkan angka 133,91 %, volume perdagangan mencapai angka 1,03 juta point dengan nilai transaksi sekitar 184.279.763,00.
Sektor Pariwisata, Seni dan Budaya
Beberapa tempat yang potensial untuk pengenbangan Sektor Pariwisata di Kabupaten Kaimana meliputi kawasan pantai, hutan dan pegunungan serta potensi situs sejarah dan kepurbakalaan. Khusus untuk potensi situs sejarah dan kepurbakalaan, di kaimana terdapat beberapa tempat situs sejarah yang telah diketahui dan memerlukan penelitian secara cermat, yaitu situs sejarah keberadaan “BURUNG GARUDA” sebagai cikal bakal lambang NKRI dan Tugu Du Bus yang merupakan benteng pertama pasukan Hindia Belanda di Papua yang didirikan pada tanggal 24 Agustus 1928. Berdirinya benteng ini menandai dimulainya Koloni Hindia Belanda di Papua. Nama benteng ini diambil dari nama Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang berkuasa pada saat itu, L.P.J. Burggraf Du Bus De Ghsignies. Meskipun daerah Papua sudah sejak tahun 1823 dianggap oleh pemerintah Belanda sebagai bagian dan tanah jajahan Belanda di kepulauan Nusantara, kekuasaan pemerintah jajahan itu baru sungguh-sungguh terwujud di Papua pada akhir abad ke-19. Segera setelah pendirian benteng pertama ini, hubungan antara pihak Belanda dan penduduk Pribumi ditentukan dalam surat-surat perjanjian. Surat perjanjian ini ditandatangani oleh Raja Namatota, Kasa (Lokajihia), Lutu (orang kaya di Lobo, Mewara dan Sendawan). Mereka diangkat sebagai Kepala di daerah masing-masing oleh Belanda dengan diberi surat pengangkatan sebagai kepala daerah, berikut tongkat kekuasaan berkepala perak. Selain ketiga kepala daerah ini diangkat pula 28 kepala daerah bawahan.
Untuk pengembangan sektor pariwisata, Pemerintah Daerah berupaya menggali dan mengembangkan berbagai kesenian tradisional berupa tari-tarian yang menjadi ciri khas Kaimana seperti Tarian Sirosa (Tarian untuk mensyukuri rahmat Tuhan), Tarian Sawat dan Furiar (Tarian Penyambutan tamu / para pembesar) serta Tarian Tifa Panjang sebagai tarian pergaulan. Penggalian dan pengembangan kesenian tradisional ini dimaksudkan sebagai upaya pelestarian kesenian daerah agar tetap menjadi ciri khas Kaimana dari generasi ke generasi. Berkaitan dengan adat dan budaya, dalam struktur beberapa jabatan adat yang tetap dijunjung tinggi seperti Raja, Kapitan, Warnemen, Sangaji, Majur / Mayor, Lutu (Orang Kaya, Orang Tua), Sufuy, Sda, Dimora, Mewara, Sendawan dan Prisi. Jabatan-jabatan tersebut merupakan jabatan dalam Pemerintahan Adat, serta jabatan orang-orang berpengaruh yang mempunyai kharisma tersendiri dan dipandang terhormat di masyarakat. Pemberlakuan jabatan dan tingkatan adat ini hampir ada di semua kampung, namun dalam peristilahannya di masing-masing kampung terdapat perbedaan.